Menurutmu, apa sih syarat buat mencintai seseorang? Mungkin jawabannya macam-macam: dia harus perhatian, harus setia, harus bisa bikin kita bahagia. Tapi, pernah nggak kita membayangkan mencintai tanpa syarat sama sekali? Mencintai sebagai keputusan, bukan sekadar respons dari bagaimana orang lain memperlakukan kita. Nah, inilah yang disebut Søren Kierkegaard sebagai cinta tanpa syarat—sebuah konsep yang mungkin terdengar asing di telinga kita yang terbiasa dengan segala sesuatu yang serba transaksional.

Kita mencari pasangan yang “sepadan”, yang menguntungkan secara emosional, status, atau validasi. Tanpa kita sadari, cinta pelan-pelan berubah jadi sebuah transaksi halus yang saling beradu antara siapa yang memberi lebih banyak dan siapa yang berhutang rasa. Fenomena ini kerap disebut sebagai cinta transaksional.

Di tengah gempuran logika untung-rugi yang perlahan mengikis makna cinta itu sendiri, aku teringat pada Søren Kierkegaard, filsuf Denmark yang mengajak kita untuk berani mencintai tanpa “membawa kalkulator di saku”. Ia menyebutnya cinta tanpa syarat. Bukan cinta yang mudah berubah karena bosan, bukan pula cinta yang mudah menguap saat tak lagi diuntungkan.

Cinta tanpa syarat, bagi Kierkegaard, adalah keberanian untuk memilih mencintai dengan sadar. Meski tahu risikonya, meski tak ada jaminan akan dicintai kembali, meski orang yang kita cintai sedang dalam versi paling rendah dari dirinya.

Ketika Rasa Menjadi Tuhan

Kierkegaard membagi cara manusia hidup ke dalam beberapa tahapan, dan yang paling dekat dengan keseharian kita adalah Tahap Estetis. Di tahap ini, kita hidup demi mencari sensasi, kebahagiaan instan, dan menghindari kebosanan. Dalam konteks hubungan, cinta estetis adalah cinta yang hanya mengejar spark.

Masalahnya, perasaan manusia itu ibarat cuaca di pegunungan. Pagi bisa cerah luar biasa, namun sorenya bisa berubah menjadi hujan badai yang mencekam. Jika fondasi hubungan hanya berdiri di atas “perasaan cocok”, maka saat perasaan itu surut karena konflik atau tekanan hidup, hubungan itu bakal ikut runtuh juga.

Aku sering bertanya pada diriku sendiri, “Apakah aku mencintai dia karena siapa dia, atau aku hanya mencintai dari cara dia membuatku merasa spesial? “. Jika cintaku hanya bergantung pada bagaimana dia memperlakukanku, maka aku sebenarnya tidak sedang mencintai siapa pun kecuali proyeksi diriku sendiri.

Cinta Tanpa Syarat sebagai Sebuah Pilihan

Kierkegaard menawarkan jalan keluar yang mungkin terdengar tidak familar bagi kita yang hidup di zaman sekarang, yaitu cinta sebagai tugas atau yang ia sebut Agape. Bukan cinta yang meluap-luap karena terbawa perasaan, tapi cinta yang lahir dari kesadaran dan pilihan. Cinta yang etis, bukan sekadar romantis.

Soren Kierkegaard

Bayangkan cinta itu ibarat sebuah pohon. Perasaan hanyalah daun-daunnya yang bisa gugur kapan saja saat musim berganti. Sementara itu, komitmen adalah akarnya yang tetap menghujam bumi, tidak peduli seberapa kencang angin bertiup di atas sana. Mencintai tanpa syarat berarti aku memilih untuk tetap menjadi “akar” itu sendiri.

Aku memilih untuk tetap bersikap baik meski hati sedang kecewa. Aku memilih untuk menepati janji meski suasana hati sedang tidak mendukung. Bukan karena aku naif, tapi karena aku tahu bahwa kebaikan yang aku punya tidak seharusnya ditentukan oleh perilaku orang lain.

“Cinta sejati justru diuji saat tidak ada keuntungan pribadi di dalamnya.” — Søren Kierkegaard

Mengapa Kita Takut Mencintai Tanpa Syarat?

Banyak dari kita yang mencintai dengan “rem tangan” terpasang. Luka masa lalu dan trauma sering kali mengubah cara kita memberi hati. Kita menjadi lebih waspada, lebih cepat defensif, dan selalu siap untuk menarik diri sebelum disakiti. Kita takut kalau kita memberi terlalu banyak, kita akan berakhir dengan kekecewaan.

Namun, di sinilah letak paradoksnya. Kalau kita terus menghitung-hitung dalam cinta, kita tidak akan pernah benar-benar merasakan hangatnya dan lapangnya mencintai dengan tulus. Cinta yang dikendalikan rasa takut itu bukanlah cinta, tapi mekanisme pertahanan diri.

Cinta tanpa syarat menuntut keberanian diri kita untuk menjadi rentan. Artinya, aku mencintai tanpa manipulasi dan tanpa permainan “siapa yang lebih butuh”. Aku memberikan kasih sayang bukan karena aku mengharapkan balasan yang setimpal, tapi karena aku sadar bahwa kemampuan untuk mencintai dengan tulus adalah ukuran kedewasaanku sebagai manusia.

Cinta Bukan Alat Pengisi Kekosongan

Sering kali kita terjebak pada pemikiran bahwa pasangan adalah seseorang yang akan menyempurnakan hidup kita, yang membuat kita merasa cukup, utuh, dan tidak sendiri. Kita berharap cinta bisa menjadi pelarian dari rasa sepi atau rasa tidak berdaya. Padahal aslinya, tidak ada manusia yang benar-benar bisa memikul beban untuk menyempurnakan hidup orang lain.

Cinta justru adalah ruang untuk bertumbuh, dan tumbuh itu tidak selalu nyaman. Ia memperlihatkan sisi diri kita yang belum selesai, meruntuhkan keangkuhan ego kita, dan memaksa kita untuk belajar sabar. Bertumbuh dalam cinta jarang sekali terasa manis seperti halnya di film-film romantis. Cinta itu seperti merawat tanaman. Kadang kita terlalu sering menyiram, kadang malah lupa sama sekali. Tapi pada akhirnya, pelan-pelan kita belajar memahami apa yang benar-benar ia butuhkan agar bisa tumbuh dengan baik.

Di zaman sekarang yang sangat mudah berganti pasangan, cukup swipe kanan untuk dapat kenalan baru, memilih untuk bertahan dengan kesadaran adalah tindakan yang sangat berani dan dewasa. Maka, pertanyaannya bukan lagi tentang “Apakah dia layak kucintai?”, melainkan:

“Dapatkah aku menjadi cukup dewasa untuk tetap mencintai, meskipun aku tidak selalu diuntungkan?”

Memanusiakan Kembali Hati Kita

Desain tanpa judul 2

Pada akhirnya, mencintai tanpa syarat di tengah dunia yang serba transaksional ini adalah cara kita untuk tetap menjadi manusia. Ini adalah perjalanan untuk melampaui diri sendiri. Saat aku berhenti melihat orang lain sebagai alat untuk memenuhi kebutuhanku, saat itulah aku mulai belajar apa itu cinta yang sesungguhnya.

Mencintai tanpa syarat memang berisiko. Kita bisa terluka, kita bisa kecewa. Tapi hidup yang mengurung diri di balik ketakutan jauh lebih melelahkan daripada sakit karena pernah berani menyayangi sepenuh hati. Di sinilah pentingnya proses memaafkan, bukan hanya pada orang lain, tapi juga pada diri sendiri atas luka yang pernah terjadi. Seperti kata Kierkegaard, tugas kita bukanlah untuk menemukan cinta yang sempurna, melainkan untuk menjadi cinta itu sendiri dalam setiap keputusan yang kita ambil.

💡
Cinta bukan tentang siapa yang kita temukan untuk berjalan bersama, tapi tentang kualitas jiwa seperti apa yang kita bentuk saat kita memilih untuk tetap menetap, tetap memberi, dan tetap lembut, bahkan saat semua orang sibuk menghitung untung rugi.

Eksplorasi konten lain dari Beauty Soulitude – Your Guiding Light on the Spiritual Journey ✨

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categorized in:

Filosofi,