Dulu, aku pikir iman harus selalu punya nama.

Harus bisa dijelaskan. Harus bisa didefinisikan.

Harus satu, tidak boleh banyak.

Harus lurus, tidak boleh belok.

 

Tapi kemudian hidup membawaku ke tempat yang tidak pernah terpetakan.

Membawaku titik di mana aku tidak lagi bisa berkata, “Ini pasti benar, itu pasti salah.”

Bukan karena aku ragu akan keberadaan-Nya,

tapi karena aku mulai melihat wajah-Nya dalam begitu banyak bentuk.

Dalam doa yang tak kuucapkan secara lisan,

dalam cinta yang melampaui batas,

dalam manusia-manusia yang tak selalu sepakat, tapi tetap saling bergandeng tangan.

 

Aku bertanya:

Apakah cinta ilahi harus lahir dari label yang sama?

Apakah kebaikan hanya sah kalau datang dari orang yang seiman?

Dan semakin aku membuka hati, semakin aku sadar, jawabannya TIDAK.

 

Kita sering diajari untuk mencintai yang serupa dan mencurigai yang berbeda.

Padahal, Tuhan tidak pernah menciptakan satu warna saja.

Langit pun kerap berubah-ubah: biru, kelabu, jingga, bahkan hitam pekat.

Tapi, langit tetaplah langit.

Tak pernah hilang keberadaannya hanya karena warnanya berubah.

 

Begitu pun iman.

Ia bisa hadir dalam wujud yang tak selalu harus sama.

Dalam kehadiran seorang teman yang tak mengenal Tuhan, tapi mengenal kasih.

Dalam bantuan seorang asing yang tak seiman, tapi penuh empati.

Dalam senyum anak kecil yang belum bisa melafalkan doa, tapi sudah menjadi doa itu sendiri.

 

Aku tidak lagi merasa perlu bertanya,

“Agama kamu apa?”

sebelum aku bisa merasa terhubung.

Karena aku percaya, kalau cinta memang bersumber dari Tuhan,

ia pasti melintasi label, batas, dan definisi.

Ia tidak bertanya KTP-mu.

Ia hanya bertanya, “Apakah kamu melihatku dalam sesama kamu?”

Dan jika jawabannya YA,

maka bagiku, itu sudah lebih dari cukup.

 

Imanku kini tak bersuara keras,

tak banyak aturan,

tak punya nama resmi.

Tapi ia hidup dalam caraku melihat dunia.

Dalam caraku mencintai, tanpa syarat keharusan yang sama.

 

Aku tidak meninggalkan agama. Aku menghormatinya untuk diriku sendiri.

Tapi aku tak lagi merasa harus “memilikinya” untuk merasa utuh.

Aku bisa berdiri di luar kotak, tapi tetap berjalan menuju cahaya-Nya.

Karena aku percaya, yang Ilahi jauh lebih besar dari label apa pun yang bisa kita sematkan.


Eksplorasi konten lain dari Beauty Soulitude – Your Guiding Light on the Spiritual Journey ✨

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categorized in:

Oase,